Selama ini kita sudah sangat familiar dengan
sistem national television system committee (NTSC) yang dipergunakan
televisi untuk menyajikan gambar. Tetapi, belakangan dengan munculnya
teknologi high-definition television (HDTV) atau yang dalam bahasa
Indonesia disebut televisi definisi tinggi, menyebabkan fungsi NTSC
perlahan-lahan tergantikan. Apa sih sebenarnya teknologi HDTV ini?
PESATNYA kemajuan teknologi digital, terutama di bidang gambar
digital yang mengkombinasikan foto dan video, memang tidak diduga
sebelumnya. Kehadiran teknologi HDTV, bukan saja mendorong produk-produk
dengan kualitas digital pada beberapa merek perangkat televisi yang
sudah punya nama, tetapi juga pada cara perekamannya untuk ditayangkan
di HDTV.
Sampai sekarang masih sulit untuk mendefinisikan secara tepat HDTV.
Yang pasti, teknologi tayangan televisi yang dianggap terbaik sekarang
ini adalah menggunakan sistem NTSC (National Television Systems
Committee) yang menayangkan gambar analog, menghasilkan resolusi
sebanyak 525 garis pada layar televisi. Sedangkan HDTV menghasilkan
resolusi 1.125 garis tayangan yang lebih padat dan mampu menghasilkan
informasi video lima kali lebih banyak dibanding sistem NTSC.
Namun, walaupun memiliki keunggulan yang luar biasa dalam
menghasilkan resolusi yang rapat, tajam, dan jelas, transmisi HDTV
memerlukan bandwith yang lebih besar sampai lima kali dibanding
kapasitas sinyal televisi konvensional. Meski masih sulit
mendefinisikannya, HDTV dapat diartikan sebagai suatu sistem media
komunikasi bergambar dan atau bersuara dengan tingkat kualitas ketajaman
gambar (resolusi) yang sangat tinggi (hampir sama dengan kualitas film
35 mm) dan kualitas suaranya juga menyerupai CD (Compact Disk).
Dalam hal ini teknologi pemrosesan sinyal digital dan displai
memberikan peran yang sangat penting. Diharapkan juga nantinya bisa
melayani multi bahasa dan multi media. Karena HDTV merupakan sistem
komunikasi, maka seperti juga sistem komunikasi konvensional lainnya,
untuk penyelenggaraannya memerlukan beberapa komponen dasar seperti
pusat produksi (studio), pemroses/penyimpan, sistem transmisi dan
pesawat penerima.
Konsep dasar HDTV di sisi lain sebenarnya tidak
dimaksudkan hanya untuk meningkatkan definisi per wilayah unit tayangan
layar televisi, tetapi juga untuk meningkatkan persentase bidang visual
yang menayangkan gambar tersebut. Pengembangan HDTV diarahkan pada
peningkatan 100 persen jumlah piksel horizontal dan vertikal, misalnya
bingkai gambar 1 MB seharusnya memiliki jumlah 1.000 garis x 1.000 titik
horizontal.
Hasil yang didapat dari perluasan ini adalah faktor perbaikan 2-3
kali dalam sudut bidang vertikal dan horizontal. Dengan demikian,
perbaikan sudut ini pada HDTV juga mengubah rasio menjadi 16:9 dari 4:3
dan menjadi imej yang ditayangkan seperti di "bioskop". HDTV memang
merupakan media komunikasi baru dan teknologinya sedang dalam proses
penyempurnaan, terutama pada awal dekade 90-an.
Secara singkat
sejarah perkembangan HDTV dimulai oleh Jepang yang dimotori oleh pusat
riset dan pengembangan NHK (TVRI/RRI-nya Jepang) pada tahun 1968.
Kemudian diikuti oleh masyarakat Eropa sebagai pembanding dan akhirnya
Amerika Serikat menjadi kompetitor yang harus diperhitungkan.
Diperkirakan teknologi HDTV ini akan menjadi standar televisi masa
depan, sehingga seorang peneliti senior dalam bidang sistem strategi dan
manajemen Dr. Indu Singh meramalkan bahwa pasar dunia untuk HDTV ini
akan mencapai 250 milyar dolar per tahun (tahun 2010).
Kompetisi Standar
Di samping aspek pasar yang menggiurkan, dalam sistem
penyelenggaran HDTV mempunyai dampak yang luas pada bidang budaya,
sosial, politik sampai pada pertahanan. Karena itu negara-negara maju
telah berlomba agar sistem yang mereka kembangkan itu nantinya dapat
dipakai sebagai standar dunia (global).
Standar yang telah masuk
dalam agenda rapat CCIR (badan internasional yang menangani standarisasi
sistem penyiaran), baru dua yaitu MUSE (Jepang) dan HD-MAC (Eropa).
Sementara itu Amerika Serikat yang diatur oleh FCC (Komisi Komunikasi)
sedang ditegangkan untuk memutuskan satu standar dari masing-masing team
(konsorsium) yang sedang berkompetisi.
Karena kepentingan masing-masing negara yang berbeda-beda apakah
CCIR bisa memutuskan pemakaian standar yang tunggal? Pengalaman dari
sistem TV konvensional yaitu adanya PAL/SECAM di Eropa & ASEAN, NTSC
di Amerika dan Jepang, rasanya sulit CCIR untuk bisa memutuskan
pemakaian tunggal sistem penyiaran HDTV ini. Disamping itu juga ada
badan standarisasi di bawah ISO yaitu MPEG yang menangani standarisasi
pengkodean dan pemampatan sinyal gambar bergerak.
Setiap negara tentu saja menginginkan bahwa negaranya bisa maju
dalam segala hal, termasuk teknologi HDTV. Bagi negara maju yang
infrastruturnya sudah lengkap yang menjadi masalah penerapan adalah
kompetisi. Namun demikian bagaimana dengan negara berkembang yang
infrastrukturnya masih terbatas (lihat idealisasi sistem siaran di
atas), apakah mau menciptakan standar sendiri ataukah mengikuti standar
yang sedang dikembangkan oleh bangsa maju. apankah HDTV tersebut layak
diterapkan?
Karena tingkatan teknologi HDTV yang ada sudah demikian maju,
kemungkinan membuat standar sinyal sendiri hanyalah membuang waktu dan
dana. Alangkah bijaksananya kalau negara berkembang bisa mempelajari
sistem HDTV ini baik dari segi produksi, transmisinya, pesawat penerima
bahkan sampai industri pembuatan komponen-komponen tersebut. Karena
tanpa bisa memproduksi, negara tesebut akan selalu bergantung.
Sebagai
contoh keterpaduan yang dilakukan di Jepang untuk pengembangan industri
televisi yang dimulai dekade 50-an. Dengan dimotori oleh Pusat Riset
dan Pengembangan NHK, Jepang memaksa industri-industri dalam negeri
(Sony, Matsuhita, dll) untuk bisa memproduksi televisi dan komponen
terkait dengan orientasi permulaan pasar dalam negeri.
Dengan dilaksanakan siaran secara langsung melalui media televisi
upacara pernikahan kaisar (emperor) Akihito pada tahun 1959, meledaklah
industri televisi di Jepang. Akhirnya seperti kita ketahui dengan baik
bahwa Jepang telah bisa merajai teknologi televisi dan pasar dunia.
Bahkan telah berhasil menayangkan program HDTV 8 jam sehari (mulai 25
Nopember 1991).
Contoh lain adalah Korea Selatan. Mereka tidak
terburu-buru mengadakan penyelenggaraannya di saat standar belum mapan.
Namun yang mereka kejar adalah bagaimana memproduksi HDTV untuk bisa di
ekspor, sehingga mereka mengirimkan para ahli yang bisa membuat HDTV ke
Jepang , Eropa dan Amerika. Kegiatan ini merupakan konsorsium dari
pemerintah dan industri terkait seperti Golden Star, Samsung, Daewo, dan
Korean Telecom. Proyek pengembangan produksi HDTV di Korea ini dimulai
sejak tahun 1989, dengan biaya 100 milyar won, 60 persen di antaranya
dikeluarkan dari kocek pemerintah.
Syarat Penyelenggaraan HDTV
Untuk
dapat menyelenggarakan sistem siaran HDTV baik secara nasional maupun
global yang ideal, diperlukan beberapa kriteria antara lain sebagai
berikut:
Penggunaan sinyal standar yang sama (di dunia /dalam satu negara).
Biaya pesawat penerima yang murah /terbeli oleh khalayak umum.
Kompatibel dengan sistem yang sudah ada.
Bisa dihubungkan dengan media lain (multi-media).
Dapat terjangkau secara meluas (aspek pemerataan). (iah/berbagai sumber)
SUMBER DARI : www.balipost.co.id